Anak Pulau

Jumat, 06 Mei 2016

CERPEN : AIRMATA DI ATAS SAJADAH



AIRMATA DI ATAS SAJADAH
Created By : Irfan Tiakoliy

Description: Hasil gambar untuk tumpukan kerja kantor
Jari jemarinya masih betah menari di atas keyboard, sesekali kembali mengusap kacamata dengan selembar tisu yang di ambil dari samping monitor. Hmmmm....helaaan nafas ketika matanya melirik pada tumpukan kertas yang masih terlihat bak gunung Gamalama di atas meja kerjanya.
Hi,,,Alief,” sapa Dina, rekan kerja yang bersebelahan meja dengannya.
Iya, mba, uda beres ya kerjaannya?” ucapnya.
Alhamdulillah, aku balik duluan ya,” ucap Dina, sambil berjalan menuruni anak tangga di depan rungan kerja mereka yang mulai sepi.
Pikirannya kembali fokus pada tumpukan kertas di meja kerjanya. Ruangan mulai sepi, semua karyawan telah kembali. Di pojok, samping janitor hanya terlihat seorang petugas cleaning service yang sibuk membereskan gelas bekas para karyawan.
Dari ponselnya terdengar suara azan, seketika membawa ketenangan jiwa baginya yang mulai penat oleh deretan tugas, alarm pertanda telah masuk waktu magrib untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Segera ia tinggalkan meja kerja, berjalan menuju musholah yang tak jauh dari ruangan kerjanya. Tenang, segar dan damai terasa saat butiran-butira air wudhu memabasahi wajahnya.
Hamparan sajadah yang tampak usang, sajadah yang diambilnya dari atas lemari kecil di sudut musholah, segera ia tenangkan diri menghadap Tuhan, sang pemberi kesempurnaan hidup. Tangan menengadah, hati menunduk, dengan linangan airmata ia mulai memohon kepada sang penyempurnah hidup, memintah kemurahanNYA untuk segera menyempurnahkan hidupnya. Sebuah pinta dari hamba yang kini telah memasuki usia 29 tahun, namun tak jua bersua dengan wanita pujaan hati. Merintih dengan isak tangis, penuh harap, hanya pilihan Allah yang terbaik saat ini buatnya. Pilihan yang selalu di nanti di setiap sujud panjangnya, pilihan yang mengurai airmata penuh harap di atas sajadah. Berharap menemukan jodoh pilihan Allah untuk dirinya yang selalu di terpa tanya oleh keluarga besar di kampung, “kapan nikah”, sebuah pertanyaan klasik yang di dapat setiap kali menerima telepon dari keluarga di kampung. Atau “kamu kapan bro” pertanyaan yang kadang membuatnya jengkel ketika menghadiri pernikahan teman sekantor, hanya senyum sebagai jawaban setiap pertanyaan itu kembali menghampirinya.
Description: Hasil gambar untuk menjemput jodoh di atas sajadahSetelah menggantungkan harapan pada sang penyempurnah hidup, ia kembali menuju monitor, merapikan tumpukan kertas yang belum selesai di kerjakan,menekan remote AC dan berjalan turun menuju mesin absen. Langkahnya keluar meninggalkan kantor menyusuri gang sempit menuju kamar kos. Sejuta pikiran menari dalam memori pikirnya, membuat langkahnya perpacuh dalam lemas, pikir untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaan dan kegelisaan atas jodoh yang tak kunjung datang.
Jalanan gelap, tak tampak kerlap kerlip lampu jalan, di pojok jalan terlihat seorang karyawan swasta berseragam berjalan dengan peluh di sekujur tubuhnya, melewati gang sempit depan Kampus An Nuami Jakarta selatan. Wajah lelah tampak menyelimutinya, langkahnya terhenti di bawah tiang listrik tepat di depan kampus An Nuami, ia sandarkan tubuh kecilnya pada tiang listrik. Begitu berat terlihat beban hidupnya, ia bersandar seperti sedang putus asa, kecewa akan jalan hidupnya, sesekali matanya silau oleh lampu motor yg berlalu lalang. dari matanya menetes butiran butiran bening yang tak lagi mampuh di bendungnya.
Begitu berat beban hidup yang di jalani, kakinya semakin tertatih mengejar cita itu. Cita almarhum Ayahnya.Tiada perhatian, hanya nyiyiran dan cemoh yg di dapat, banyak yg menganggap ia gila,,miskin tapi ambisi besar menjadi seorang yang hebat.Tangannya sesekali mengcakar rambutnya, seolah berontak,,ingin berteriak pada semua orang kalau ia tak lagi kuat hadapi semuanya. Saat keputusasaan itu, Tuhan memeluknya,,memberi ia sakit yg kronis hingga harus melakukan terapi dan proses cuci darah. Tuhan menggenggam tangannya, membawanya terbang mengejar semua impiannya. Hingga kini...Tak jua sampai, di ujung jalan, Tuhan meletakan ia pada persimpangan, menyuruhnya, melatihnya menentukan pilihan sesuai kehendaknya. Ia tetap kekeh memilih jalan terjal,,demi impian Ayah. Hingga kini sepi jalan itu masih terus di telusuri, sepi.....semua menjauh, tak ada tangan tempatnya menggenggam, seolah tak ada mata yg melihatnya.Dalam tangis dan setiap sujud panjangnya, selalu terbesit keyakinan dalam dirinya bahwa garis finish itu sudah dekat. Tuhan telah menjanjikan tangis haru bahagia di ujung jalan perjalanannya. Tangis haru saat tangis pilunya usai.
Description: Hasil gambar untuk langkah kakiKakinya kembali menyusuri jalanan sempit hingga memasuki sebuah kamar kos kecil, sepatu tak lagi di lepas dari kaki, segerah ia rebahkan tubuh di atas kasur usangnya. Matanya menantap tajam pada sebuah foto di atas meja TV, foto wanita yang dulu menjadi penyemangat hidupnya. Gadis Desa yang memikat hati, membuat tubuhnya kembali beraroma farpum, ya….maklum, saat sebelum jatuh hati pada gadis itu, penampilan bukan yang utama buatnya, kucel dan tak pernah mengenakan farpum itulah dia beberapa waktu lalu.
Ingatannya kembali pada 2 bulan lalu, saat tepuk tangan meriah dari rekan kerja, memberi semangat atas prestasi kerja, tapi kegembiraan itu harus berubah pilu saat bunyi dering ponsel dari balik kantong celana.
Hallo, siapa? Tanyanya.
Ini abang Is,” ucap lelaki di telepon itu.
O,,,,abang, gimana Bang?” tanyanya.
Bagaimana hubungan kamu dengan As? Tanya sang kakak.
Biasa aja Bang, Cuma lagi miss komunikasi aja,” jawabnya singkat.
Tapi sekarang, di rumahnya lagi ramai, dia barusan dari kota bersama seorang cowok, menurut kabar, lelaki itu meminangnya,” ucap sang kakak.
Foto yang kini di peluknya terlepas dari tangan, matanya mulai berkaca, ada rasa tak percaya, wanita yang begitu baik baginya, wanita yang menemaninya selama menempuh perjalanan dan liku penyelesaian skripsi, menunggunya di depan Lab Pendingin, ruangan ketua Jurusan hingga tertidur, tertidur dengan perut keroncongan. kini menerima pinangan lelaki lain.
Udara malam Jakarta yang mulai dingin. sejenak menenangkan batinnya yang bergejolak, di sepertiga malam saat semua terlelap dalam tidur, ia terbangun, dalam sunyi sajadahnya mulai basah oleh airmata do’a, berharap airmata ini akan membawanya pada keridhoan Allah. ia tahu Allah akan mengirimnya pendamping hidup yang akan membantunya menyempurnakan agama Allah. Di atas sajadah ia bergelut dengan do’a menjemput jodoh pilihan Allah untuknya. Terus memperbaiki diri hingga waktu yang tepat Allah mengirimnya bidadari dunia juga akhirat, waktu dimana nanti dia mengikatkan janji suci, janji sebagai hamba Allah dan penyempurnah bakti atas agama juga keluarga. Bakti sebagai hamba.menuju ridho Allah.

                                                  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar