AIRMATA DI ATAS SAJADAH
Created By :
Irfan Tiakoliy

Jari
jemarinya masih betah menari di atas keyboard,
sesekali kembali mengusap kacamata dengan selembar tisu yang di ambil dari
samping monitor. Hmmmm....helaaan nafas ketika matanya melirik pada tumpukan
kertas yang masih terlihat bak gunung Gamalama di atas meja kerjanya.
Hi,,,Alief,”
sapa Dina, rekan kerja yang bersebelahan meja dengannya.
Iya,
mba, uda beres ya kerjaannya?” ucapnya.
Alhamdulillah,
aku balik duluan ya,” ucap Dina, sambil berjalan menuruni anak tangga di depan
rungan kerja mereka yang mulai sepi.
Pikirannya
kembali fokus pada tumpukan kertas di meja kerjanya. Ruangan mulai sepi, semua
karyawan telah kembali. Di pojok, samping janitor hanya terlihat seorang
petugas cleaning service yang sibuk
membereskan gelas bekas para karyawan.
Dari
ponselnya terdengar suara azan, seketika membawa ketenangan jiwa baginya yang
mulai penat oleh deretan tugas, alarm pertanda telah masuk waktu magrib untuk
wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Segera ia tinggalkan meja kerja, berjalan
menuju musholah yang tak jauh dari ruangan kerjanya. Tenang, segar dan damai
terasa saat butiran-butira air wudhu memabasahi wajahnya.
Hamparan
sajadah yang tampak usang, sajadah yang diambilnya dari atas lemari kecil di
sudut musholah, segera ia tenangkan diri menghadap Tuhan, sang pemberi
kesempurnaan hidup. Tangan menengadah, hati menunduk, dengan linangan airmata
ia mulai memohon kepada sang penyempurnah hidup, memintah kemurahanNYA untuk
segera menyempurnahkan hidupnya. Sebuah pinta dari hamba yang kini telah
memasuki usia 29 tahun, namun tak jua bersua dengan wanita pujaan hati.
Merintih dengan isak tangis, penuh harap, hanya pilihan Allah yang terbaik saat
ini buatnya. Pilihan yang selalu di nanti di setiap sujud panjangnya, pilihan
yang mengurai airmata penuh harap di atas sajadah. Berharap menemukan jodoh
pilihan Allah untuk dirinya yang selalu di terpa tanya oleh keluarga besar di
kampung, “kapan nikah”, sebuah pertanyaan klasik yang di dapat setiap kali
menerima telepon dari keluarga di kampung. Atau “kamu kapan bro” pertanyaan
yang kadang membuatnya jengkel ketika menghadiri pernikahan teman sekantor,
hanya senyum sebagai jawaban setiap pertanyaan itu kembali menghampirinya.
Setelah
menggantungkan harapan pada sang penyempurnah hidup, ia kembali menuju monitor,
merapikan tumpukan kertas yang belum selesai di kerjakan,menekan remote AC dan
berjalan turun menuju mesin absen. Langkahnya keluar meninggalkan kantor
menyusuri gang sempit menuju kamar kos. Sejuta pikiran menari dalam memori
pikirnya, membuat langkahnya perpacuh dalam lemas, pikir untuk menyelesaikan
setumpuk pekerjaan dan kegelisaan atas jodoh yang tak kunjung datang.
Jalanan gelap,
tak tampak kerlap kerlip lampu jalan, di pojok jalan terlihat seorang karyawan
swasta berseragam berjalan dengan peluh di sekujur tubuhnya, melewati gang
sempit depan Kampus An Nuami Jakarta selatan. Wajah lelah tampak
menyelimutinya, langkahnya terhenti di bawah tiang listrik tepat di depan
kampus An Nuami, ia sandarkan tubuh kecilnya pada tiang listrik. Begitu berat
terlihat beban hidupnya, ia bersandar seperti sedang putus asa, kecewa akan
jalan hidupnya, sesekali matanya silau oleh lampu motor yg berlalu lalang. dari
matanya menetes butiran butiran bening yang tak lagi mampuh di bendungnya.
Begitu berat
beban hidup yang di jalani, kakinya semakin tertatih mengejar cita itu. Cita
almarhum Ayahnya.Tiada perhatian, hanya nyiyiran dan cemoh yg di dapat, banyak
yg menganggap ia gila,,miskin tapi ambisi besar menjadi seorang yang
hebat.Tangannya sesekali mengcakar rambutnya, seolah berontak,,ingin berteriak
pada semua orang kalau ia tak lagi kuat hadapi semuanya. Saat keputusasaan itu,
Tuhan memeluknya,,memberi ia sakit yg kronis hingga harus melakukan terapi dan
proses cuci darah. Tuhan menggenggam tangannya, membawanya terbang mengejar
semua impiannya. Hingga kini...Tak jua sampai, di ujung jalan, Tuhan meletakan
ia pada persimpangan, menyuruhnya, melatihnya menentukan pilihan sesuai
kehendaknya. Ia tetap kekeh memilih jalan terjal,,demi impian Ayah. Hingga kini
sepi jalan itu masih terus di telusuri, sepi.....semua menjauh, tak ada tangan
tempatnya menggenggam, seolah tak ada mata yg melihatnya.Dalam tangis dan
setiap sujud panjangnya, selalu terbesit keyakinan dalam dirinya bahwa garis
finish itu sudah dekat. Tuhan telah menjanjikan tangis haru bahagia di ujung
jalan perjalanannya. Tangis haru saat tangis pilunya usai.
Kakinya
kembali menyusuri jalanan sempit hingga memasuki sebuah kamar kos kecil, sepatu
tak lagi di lepas dari kaki, segerah ia rebahkan tubuh di atas kasur usangnya.
Matanya menantap tajam pada sebuah foto di atas meja TV, foto wanita yang dulu
menjadi penyemangat hidupnya. Gadis Desa yang memikat hati, membuat tubuhnya
kembali beraroma farpum, ya….maklum, saat sebelum jatuh hati pada gadis itu,
penampilan bukan yang utama buatnya, kucel dan tak pernah mengenakan farpum
itulah dia beberapa waktu lalu.
Ingatannya
kembali pada 2 bulan lalu, saat tepuk tangan meriah dari rekan kerja, memberi
semangat atas prestasi kerja, tapi kegembiraan itu harus berubah pilu saat bunyi
dering ponsel dari balik kantong celana.
Hallo, siapa? Tanyanya.
Ini abang Is,” ucap lelaki di
telepon itu.
O,,,,abang, gimana Bang?”
tanyanya.
Bagaimana hubungan kamu dengan
As? Tanya sang kakak.
Biasa aja Bang, Cuma lagi miss
komunikasi aja,” jawabnya singkat.
Tapi sekarang,
di rumahnya lagi ramai, dia barusan dari kota bersama seorang cowok, menurut
kabar, lelaki itu meminangnya,” ucap sang kakak.
Foto yang kini
di peluknya terlepas dari tangan, matanya mulai berkaca, ada rasa tak percaya,
wanita yang begitu baik baginya, wanita yang menemaninya selama menempuh
perjalanan dan liku penyelesaian skripsi, menunggunya di depan Lab Pendingin,
ruangan ketua Jurusan hingga tertidur, tertidur dengan perut keroncongan. kini
menerima pinangan lelaki lain.
Udara
malam Jakarta yang mulai dingin.
sejenak menenangkan batinnya yang bergejolak, di sepertiga malam saat semua
terlelap dalam tidur, ia terbangun, dalam sunyi sajadahnya mulai basah oleh
airmata do’a, berharap airmata ini akan membawanya pada keridhoan Allah. ia tahu Allah akan
mengirimnya pendamping hidup yang akan membantunya menyempurnakan agama Allah.
Di atas sajadah ia bergelut dengan do’a menjemput jodoh pilihan Allah untuknya. Terus memperbaiki
diri hingga waktu yang tepat Allah mengirimnya bidadari dunia juga akhirat,
waktu dimana nanti dia mengikatkan janji suci, janji sebagai hamba Allah dan
penyempurnah bakti atas agama juga keluarga. Bakti sebagai hamba.menuju ridho
Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar